Menggugurkan Kandungan

Saat mendapatkan kehamilan yang tidak diinginkan, Anda memiliki pilihan berikut:

  1. Menggugurkan Kandungan.

  2. Mempertahankan kehamilan dan menyerahkan bayi untuk diadopsi.

  3. Mempertahankan kehamilan dan membesarkan anak Anda dengan atau tanpa bantuan pasangan.

Birthright Society dan Mother’s Choice menyediakan dukungan bagi perempuan yang ingin mempertahankan kehamilan, dan membantu mereka mengatur adopsi setelah kelahiran jika mereka memutuskan mengambil langkah tersebut.

Keputusan mempertahankan atau menggugurkan kehamilan yang tidak diinginkan boleh jadi salah satu yang paling sulit untuk diambil. Melibatkan setidaknya pasangan dalam proses pengambilan keputusan dapat menjadi langkah pertama yang bijak.

Di Indonesia, menggugurkan kandungan tidak melanggar hukum dalam dua situasi berikut:

  1. Jika dipertahankannya kehamilan mengandung risiko yang lebih besar terhadap jiwa, kesehatan fisik atau mental sang calon ibu dibanding jika kehamilan digugurkan.
  2. Jika calon bayi dikuatirkan mengalami cacat serius akibat abnormalitas fisik atau mental.

Prosedur ini tidak boleh dilaksanakan setelah 24 minggu kecuali diperlukan untuk menyelamatkan nyawa sang calon ibu.

Di mana saya dapat menggugurkan kandungan?

Pemeriksaan akan dilakukan oleh dua orang dokter. Jika keduanya sepakat bahwa aborsi memang diperlukan demi kebaikan ibu atau janin, prosedur dapat dilakukan. Saat ini, aborsi legal hanya dapat dilakukan di Family Planning Association (Paguyuban Keluarga Berencana) atau rumah sakit yang ditunjuk dalam Berita Negara. Anda dapat mendatangi klinik-klinik aborsi berikut untuk bantuan atau rujukan.

  1. Klinik Aborsi Kandungan

  2. Pusat Kesehatan Ibu & Anak, Kementerian Kesehatan.

  3. Rumah Sakit Swasta

Dukungan untuk mempertahankan kehamilan

  1.  Birthright Society

2.  Mother’s Choice

Bagaimana menggugurkan kandungan?

Secara umum, aborsi dapat dilakukan lewat operasi atau dengan obat.

  • Pada aborsi melalui operasi, serviks harus didilasi dengan obat. Pengosongan rahim dilakukan dengan kanula isap sempit untuk membuang atau mengeluarkan janin. Prosedur dapat dilakukan dengan anestesi lokal atau total. Sakit dengan tingkat tertentu dapat dialami setelah prosedur ini, dan diredakan dengan pereda sakit.
  • Obat-obatan juga mungkin digunakan untuk merangsang kontraksi rahim untuk mengeluarkan organ janin. Akan tetapi, sering hanya sebagian kecil organ janin dapat dikeluarkan. Pengosongan uterus perlu dilakukan seperti dijelaskan untuk menyelesaikan prosedur ini.

Anda dapat membicarakan cara yang paling sesuai dengan dokter.

Apa saja komplikasi aborsi?

Aborsi, jika dilakukan secara legal, aman dan jarang sekali menimbulkan komplikasi. Akan tetapi, sesekali ditemukan komplikasi:

  • Reaksi terhadap obat yang digunakan,
  • Komplikasi yang berkaitan dengan teknik anestesi,
  • Robekan pada serviks
  • Aborsi tidak tuntas,
  • Pendarahan,
  • Lubang atau luka pada rahim,
  • Infeksi dan adhesi di dalam rahim.

Prosedur dapat gagal atau tidak tuntas, sehingga intervensi lebih lanjut dibutuhkan:

  • Infeksi yang terjadi dapat mengurangi kesuburan di masa mendatang.
  • Aborsi dengan metode bedah juga berpotensi memengaruhi kehamilan di masa mendatang. Serviks dapat menjadi terlalu kendur untuk menahan janin dan mengakibatkan keguguran atau kelahiran prematur. Mungkin akan ada kesulitan mengeluarkan plasenta.

Secara umum, semakin tinggi usia kehamilan, semakin besar risiko aborsi.

Risiko aborsi ilegal jauh lebih tinggi. Semua komplikasi di atas dapat terjadi jauh lebih sering. Aborsi ilegal bahkan dapat mengakibatkan kematian! Laporan terbaru dari International Planned Parenthood Federation menyebut 13% kematian ibu melahirkan di seluruh dunia diakibatkan oleh aborsi yang tidak aman.

Yang paling penting, dampak psikologis negatif setelah aborsi tidak boleh disepelekan.

Bagaimana cara menghindari semua komplikasi tersebut?

Cara terbaik mencegah komplikasi akibat aborsi induksi adalah menggunakan kontrasepsi secara efektif, termasuk kontrasepsi pasca berhubungan seks. Keluarga berencana sebaiknya dibicarakan dengan pasangan dan disepakati sejak awal.

Pemasangan IUD dan sterilisasi tuba dapat dilakukan selama proses aborsi. Silakan bicara dengan dokter yang bersangkutan.

%d blogger menyukai ini: